Anton
Sejarah Santa Ursula
Diposting tanggal: 28 Juli 2010

SANTA URSULA
Pelindung sekolah

 
Di negeri Inggris kuno hiduplah seorang raja dan ratu yang sangat menginginkan seorang putera, seseorang yang akan menjadi ahli waris mereka. Allah memberikan kepada mereka seorang puteri, tetapi puteri dengan semangat kuat. Dan Allah sendiri, yang memanggil orang-orang yang ditakdirkanNya untuk karya-karya besar, meminta anak ini dinamai Ursula ”beruang kecil”. Kelak ia akan mencekik setan, sebagaimana David telah mencekik seekor beruang.
 
Dididik sebagai seorang puteri raja, Ursula segera menunjukkan diri sebagai orang yang lepas dari kekayaan duniawi; ia mendambakan perjuangan pernikahan surgawi dan siang malam merenungkan hukum Allah. Allah telah memilihnya, bahkan sebelum ia lahir, untuk menjadi permata di dalam GerejaNya dan berbisik ke dalam hatinya:”Dengarkanlah, puteriku, dengarkanlah kata-kataKu. Sang Raja menginginkan kecantikanMu”. Ursula mendengarkan dan mengabdikan diri selamanya kepada Kristus.
 
Tetapi putera seorang raja barbar, seorang tirani yang kejam dan jahat telah meminangnya. Dan ia tidak main-main dengan pinangannya. Jika Ursula setuju, ia akan mendapat mahkota kerajaan, hadiah-hadiah yang mewah dan mahal, kota, ladang, bahkan sebuah armada kapal; jika ia menolak, akan ada teror dan kematian seluruh negeri. Ratu dan raja menjadi sangat sedih. Ayahnya merasa sangat terkoyak antara pertimbangan politik dan cinta kepada Allah, kepada siapa puterinya telah memberikan dirinya. Bayangan kebiadaban dan kehancuran telah di ambang pintu.
 
Ursula memahami alasan dari kesedihan besar ini. Seperti Judith dan Esther, yang ingin menyelamatkan rakyatnya, ia melakukan puasa dan doa. Dan di tengah malam, seorang malaikat mengungkapkan masa depannya. Ketika matahari terbit, Ursula menghadap ayahnya dengan gembira dan senyum: “Jangan khawatir, ayah, dan berdamailah dengan Tuhan. Ia tidak pernah membiarkan seorang manusia yang baik untuk cemas selamanya. Ketahuilah bahwa suara Penasehat Ilahi telah berbicara kepada saya, pelayanNya yang tidak layak ini. Saya mengerti bahwa saya tidak boleh mengecilkan hati pelamar saya, juga tidak mengkhawatirkan keperawanan saya”.
 
Ia seorang puteri raja, Ursula tahu apa yang diinginkannya. Ia mengajukan syaratnya sendiri; Ayahnya dan ayah tunangannya harus memberinya sepuluh teman: mereka harus menambah seribu gadis lain untuk setiap gadis dari sebelas gadis ini; mereka harus menyediakan sebelas kapal dan memberi mereka waktu selama tiga tahun untuk merayakan keperawanan mereka. Raja menambahkan dua syarat lagi kepada syarat yang diajukan oleh Ursula: tunangannya harus memulai dengan dibabtis; lalu ia harus membuktikan hidup Kristiani selama paling sedikit tiga tahun. ”Tidak ada yang akan bisa menghambat rencana Allah bagi saya!” kata Ursula.

Syarat-syarat ini diterima. Ayahnya dan ayah tunangannya mengumpulkan semua perawan di dalam kerajaannya untuk membentuk pasukan baru ini; mereka dikenakan jubah kebesaran. Kedua orang ini mempekerjakan orang-orang untuk membangun dan menghias kapal-kapal. Daerah pantai berubah menjadi sebuah bengkel kerja yang besar, di mana pohon-pohon dari hutan belantara sedikit demi sedikit diubah menjadi sebelas kapal.
 
Dan dimulailah petualangan yang luar biasa. Kapal-kapal menerima pasukan yang tidak biasa, yang terdiri dari gadis-gadis muda ini, yang sebagian besar tak beragama, yang ingin menjadi bagian dari misteri yang menarik mereka. Ursula adalah pemimpin besarnya; di tempat kedua adalah Pinnosa, seorang putri jendral. Dikelilingi batalion perawannya, dengan hati dan wajah penuh kegembiraan, Ursula mengucap syukur kepada Allah. Kemudian seperti yang biasa terjadi dipasukan tentara, ia mengungkapkan rahasia besarnya kepada teman-temannya. Ia memulai dengan anjuran saleh, mengintruksikan mereka untuk mempraktekkan cinta Allah; ia membesarkan hati mereka dan memberanikan mereka. Mereka mendengarkan Angela dengan cermat; kemudian mereka mengangkat tangan dan hati kesurga, seakan-akan telah mengangkat sumpah prajurit kepada Kristus, bersumpah untuk setia pada kewajiban agama dan saling mendukung di dalam pelaksanaannya. Sejak saat itu mereka bersatu hati dan jiwa. Mengalami suatu pengalaman batin yang manis, sehingga dunia dan semua kejayaannya telah kehilangan daya tariknnya.
 
Badai menghanyutkan kapal-kapal menjauh dari Inggris menuju Rhine. Dengan mengayuh dayung mereka tiba di Cologne. Dari situ kapal-kapal kembali melayari Rhine sampai ke Basle. Ursula dan kompaninya turun dari kapal, melanjutkan perjalanan lewat darat, mereka berjalan menyeberangi pegunungan Alpen dan berjalan ke semenanjung Italia sampai ke Roma. Di Roma mengunjungi gereja-gereja dan makam para martir. Kemudian kembali berjalan kaki ke Basle. Lalu naik kapal sampai di Cologne ketika anak panah dari suku Huns membunuh kesebelas ribu gadis ini termasuk Ursula. Kesebelas ribu gadis usai menjalankan perziarahan di Roma, dalam perjalanan pulang beroleh mahkota kemartiran.